Tahun ini tepat 100 tahun Kebangkitan Indonesia.
Tahun ini saya membaca banyak tulisan dengan berbagai perspektif tentang 100 tahun Indonesia. Ada yang bangga. Lebih banyak yang menggugat. Wajar. 100 tahun memperingati kebangkitan bangsa ini diikuti dengan berbagai kondisi yang tidak mengenakkan : kenaikan BBM yang biasa diikuti dengan berbagai kenaikan bahan pokok, ketersediaan pangan yang tidak memadai, pemerintah yang masih bolong dimana-mana, dan berbagai cerita sedih lainnya.
Tahun ini saya menonton acara yang spektakuler perayaan 100 tahun kebangkitan nasional yang megah ditengah himpitan yang ada.
Tahun ini dikoran saya masih membaca pro kontra banyak orang tentang berbagai kebijakan pemerintah. Ada yang mendukung dengan berbagai alasan. Ada yang mengejek dan menganggap ini hanya bagian dari persiapan kampanye 2009. Ada yang melawan dengan berbagai alasan pula.
Tahun ini saya membaca tulisan - tulisan tentang gugatan penetapan tanggal 20 Mei sebagai tanggal Kebangkitan Nasional. Well, saya tidak berani comment apa-apa. Belum cukup kompetensi saya menyikapi hal ini. Tapi, tanpa bertendensi apa-apa, buat saya tanggal hanyalah tanggal, selama esensi dari penetapan tanggal tersebut saya dapatkan.
Tahun ini saya membaca tulisan mantan presiden India, DR Abdul Kalam yang dikirimkan oleh Mas Satrio di milis Technomedia.
Tahun ini saya membaca tulisan mas Yodhia yang bermimpi dengan Chindianesia, kebangkitan Indonesia 20 tahun yang akan datang.
Saya tak ingin berpolemik dengan berbagai carut marut yang ada. Saya hanya seorang individu, yang isinya cuma banyak mengeluh dan belum banyak berkontribusi. Tapi sudahlah. I just wanna do the best i can. As simple as that. This is me, ordinary people yang bermimpi menjadi extraordinary, hidup dinegara extraordinary yang belum mampu lepas dari banyak ketidakmampuan.
Saya hanya ingin berbuat. Cuma warga negara yang tetap bangga dan percaya dengan masa depan sebuah republik bernama Indonesia. Cuma individu yang percaya bahwa perbaikan tidak mungkin terjadi dalam energi pesimistis dan ketidakpercayaan diri. Yang percaya bahwa protes apapun tetap perlu dilakukan sebagai fungsi kontrol sosial, sebagaimana kepercayaan yang coba saya bangun bahwa ditengah kebrengsekan pemimpin negeri ini masih ada sebagian diantara mereka yang benar-benar ingin negeri ini maju.
At least, saya belum mampu menciptakan eforia kebanggaan sebagaimana yang dilakukan oleh srikandi-srikandi pebulu tangkis Indonesia.
Saya percaya kebangkitan ini bukan sekedar eforia. Saya percaya, Indonesia akan berada dalam lingkaran negara adidaya. Suatu saat nanti? Kapan? Time will tell. Its depend on us, right?
So. Mari berbuat, berbuat dan berbuat. Tidak ada perubahan yang mungkin terjadi tanpa bertindak.
Kamis, 31 Juli 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar